Dilempari Batu oleh Makhluk Gaib dan Menyebrang Sungai Gaib

Gambar diambil dari google.com

Assalamualaikum wr. wb

Kali ini aku mau cerita peristiwa yang dialami oleh salah satu anggota keluargaku. Almarhum kakekku. Seperti yang tertera pada judul, kakekku memang mengalami kejadian tersebut. Kejadian ini bukan baru-baru saja tetapi sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, sekitar 6 tahun yang lalu, tahun 2013 ketika aku masih duduk di bangku SMA kelas 10.

Berawal dari pagi hari pukul 03.30 WIB ibuku membangunkanku untuk sahur dan berpuasa karena aku masih memiliki beberapa hutang puasa. Kami berdua duduk di kursi meja makan untuk bersahur. Setelah ibuku selesai sahur, ibuku ke kamar mandi untuk buang air. FYI, kamar mandi di rumahku berada di luar rumah tepat belakang rumahku. Ibuku terkejut ketika mendapati pintu keluar rumah yang sudah tidak terkunci namun masih tertutup. “Paling ada yang ke belakang tapi lupa menutup pintunya kembali”, pikirnya. Setelah ibuku kembali dari kamar mandi, ibuku menutup dan mengunci kembali pintu keluarnya. Kemudian ibu mengecek di kamar kakekku apakah beliau masih tidur atau sudah bangun. Ibuku kaget tidak mendapati kakekku di kamarnya. Sandal selopnya masih ada, tongkat kayunya tidak ada.

Ibuku membangunkan tante-tanteku untuk memberitahu bahwa kakekku tidak ada di kamar. Sahurku pagi itu bergitu terburu-buru karena ingin juga membantu mencari kakek. Seluruh kamar, ruang, dan setiap sisi rumah sudah dicek, tetapi kami sekeluarga tidak menemukan kakek. Kakekku ini pasti tidak akan pergi jauh dengan berjalan sendiri karena kondisinya berjalannya pelan-pelan. Kami masih mencari hingga ke luar-luar, depan, samping kanan, samping kiri, belakang rumah, jalanan depan rumah, dan kamar mandi. Namun tetap kami tidak menemukan kakek. Ibuku mengabari tanteku yang lainnya, yang rumahnya dekat dengan rumahku. Mungkin saja kakek di situ. Nyatanya tidak. Pagi itu kami sekeluarga panik. Tetangga-tetangga yang mendengar berita inipun langsung membantu untuk mencari kakek. Bahkan sudah dicari ke ladang belakang rumah dan rumah-rumah tetangga. Tetapi kakek tetap belum ditemukan.

Hingga pukul 06.00 WIB kami belum juga menemukan kakek. Kemudian ada salah satu tetanggaku yang menyarankan untuk “Pergi saja ke rumah pak (aku lupa namanya).”. Kalau aku tidak salah ingat yang pergi kesana adalah kakak sepupuku bersama tanteku. Sepulang dari rumah bapak itu, mereka membawa bungkusan kecil yang aku juga tidak tahu isinya apa. Bapak itu menyuruh untuk membakar isi bungkusan tersebut di dekat gentong air yang ada di dapur. Saat dibakar, bapak itu menyuruh dua anak kakek untuk memanggil-manggil kakek dan juga menjawab panggilannya. Yang melakukannya adalah ibuku dan tanteku.
“Pak, bali pak...”, kata tanteku.
“Iyo nduk aku bali iki”, kata ibuku.

Seperti itu secara berulang-ulang dan dipenuhi dengan tangisan. Kami sekeluarga cemas.

Pagi itu rumahku menjadi ramai.

Alangkah terkejutnya ketika tetangga samping rumahku pulang ke rumahnya, dia mendapati kakekku duduk di kursi ruang tamunya, dengan memegang tongkatnya, bagian celana bawahnya basah dan juga tidak memakai sandal. Padahal satu-dua jam sebelumnya kami sudah mencari ke rumah tersebut, tetapi kakekku tidak ada disitu. Kami lalu menjemput kakek. Di rumah, kakek bilang bahwa kepala dan tangan beliau sakit. Setelah dicek ibuku, ada beberapa bagian yang berdarah. Kami bersyukur dan lega kakek sudah kembali meskipun terdapat beberapa bagian yang luka.

Setelah kakek mandi dan berganti baju, penasaran dengan apa yang terjadi aku langsung menghampiri kakek dan bertanya.
“Jenengan wau teng pundi pak tuo?”, aku memanggil kakekku dengan sebutan pak tuo.
“Aku mau ki arep diajak perang. Tapi aku wegah, aku mlayu malah dibabit nggo watu. Aku mau yo nyebrang kali gede. Sandalku tak copot tak tinggal (translate: Aku tadi mau diajakin perang. Tapi aku nggak mau, aku lari dan dilempar dengan batu. Aku tadi juga menyebrang sungai besar. Sandal kulepas kutinggal.”, aku langsung merinding ketika kakek bercerita seperti itu, begitupun sekarang ketika aku menulis cerita ini aku juga masih merasa merinding.

FYI kakekku ini adalah veteran, jadi mungkin beliau ingin diajak perang seperti dulu lagi. Oiya, jadi puasaku tersebut untuk membayar hutang puasa ramadhan tahun sebelumnya. Aku masih ingat hari menghilangnya kakek itu sekitar 7-10 hari sebelum ramadhan tahun 2013 datang. Dan kakekku meninggal dunia 6 hari sebelum lebaran. Aku masih ingat betul hari itu hari Kamis, 1 Agustus 2013.
Aduh jadi rindu dengan kakek..

Sekian, Wasaalamualaikum wr. wb
***

Comments

  1. How to play slot machines in your city - Dr.MCD
    › casino › casino Sep 통영 출장샵 21, 2018 — Sep 21, 2018 It's time for 서울특별 출장마사지 Casino Games, to be here:! How to play slot machines in your city 광주 출장안마 Casino Games, 오산 출장샵 to be here:! How to play slot machines in your city Casino Games, to 계룡 출장마사지 be here:!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alhamdulillah, I Got It.

Seperti Burung Kecil...